Sebagai rakyat kecil yang tidak berdaya, keluarga ini hanya pasrah. Akhirnya modal jualan soto sedikit demi sedikit dipakai untuk membeli material bangunan. Akibatnya ia kehabisan uang, rumah belum selesai diperbaiki, dan modal usaha juga habis. Kini Tamban tidak bisa berjualan soto lagi. Warung kecil dari gedhek yang berada di depan rumah, dipakai oleh orang lain untuk usaha tambal ban. Setelah gempa praktis kehidupan keluarga Tamban menjadi terpuruk. Untuk menopang ekonomi ia berusaha berjualan makanan anak-anak seperti permen, kripik, dan tape, namun hasilnya sangat jauh dari cukup. “Daripada duduk-duduk sedih, jualan makanan anak-anak seperti ini tidak ada hasilnya,” kata Ny Tamban.